DEV Community

Cover image for Aku Nulis Kode Seharian. Lalu Nulis Puisi di Malam Hari. Ini Kenapa
Cahyanudien Aziz Saputra
Cahyanudien Aziz Saputra

Posted on • Originally published at blog.cahyanudien.site

Aku Nulis Kode Seharian. Lalu Nulis Puisi di Malam Hari. Ini Kenapa

Aku tidak pernah merencanakan jadi penyair.

Aku merencanakan jadi developer. Dan itu yang terjadi — aku membangun aplikasi, menulis kode, merilis produk. Banyak orang memakai apa yang aku buat. Sebagian besar tidak tahu namaku.

Tapi ada sesuatu yang tidak bisa diselesaikan dengan kode.


Kode adalah bahasa yang jelas. Puisi adalah bahasa yang jujur.

Ketika aku menulis fungsi, aku tahu apa yang diinginkan. Ada input, ada output, ada logika di antaranya. Semuanya bisa diuji. Kalau salah, ada pesan error.

Hidup tidak bekerja seperti itu.

Ada hari-hari yang terasa panjang tanpa alasan. Ada kehilangan yang tidak sempat diberi nama. Ada pertanyaan yang lebih nyaman dibiarkan menggantung daripada dijawab.

Kode tidak bisa menampung itu. Puisi bisa.

Bukan karena puisi punya jawaban — justru sebaliknya. Puisi adalah ruang di mana pertanyaan boleh tetap menjadi pertanyaan. Di mana "aku tidak tahu" bukan error, tapi bagian dari prosesnya.


Malam adalah satu-satunya waktu yang jujur

Siang hari aku sibuk. Ada fitur yang harus dirilis, bug yang harus diperbaiki, notifikasi yang tidak berhenti. Semua itu nyata dan perlu dikerjakan.

Tapi malam — malam adalah milikku sendiri.

Di situlah aku mulai menulis. Bukan dengan tujuan tertentu. Bukan dengan target kata. Hanya duduk, dan membiarkan sesuatu keluar.

Beberapa malam yang keluar hanya beberapa baris. Beberapa malam tidak ada apa-apa. Tapi ada malam-malam ketika aku menulis sesuatu dan merasa — ini. Ini hal yang selama ini tidak bisa kuucapkan dengan cara lain.


Dua bahasa, satu orang

Orang-orang sering bertanya: bagaimana bisa kamu developer sekaligus nulis puisi?

Pertanyaan yang lebih tepat mungkin: bagaimana bisa kamu tidak?

Keduanya adalah cara untuk membuat sesuatu dari kekosongan. Keduanya dimulai dari pertanyaan yang belum ada jawabannya. Keduanya membutuhkan kesabaran untuk duduk dalam ketidakpastian sampai sesuatu menjadi jelas.

Bedanya — kode selesai ketika berjalan. Puisi selesai ketika terasa.


Lalu jadilah buku

Setelah cukup lama menulis di malam hari, aku punya sekumpulan kata yang tidak tahu harus pergi ke mana.

Aku susun. Aku baca ulang. Aku hapus yang tidak jujur, aku pertahankan yang terasa benar.

Jadilah Hening yang Berjalan — buku puisi pertamaku. Dua puluh empat puisi yang dibagi dalam tiga bagian: Akar, Tumbuh, Langit. Sebuah perjalanan yang tidak menawarkan kesimpulan, hanya menemani.

Aku tidak menulisnya sebagai seseorang yang sudah sampai. Aku menulisnya sebagai seseorang yang masih berjalan.

Mungkin kamu juga pernah di titik itu.


Kalau kamu penasaran, bukunya ada di sini: cahyanudien.site/hening-yang-berjalan

Dan kalau kamu juga seorang developer yang diam-diam menyimpan sesuatu — mungkin sudah waktunya dikeluarkan.


Cahyanudien Aziz Saputra adalah pendiri FlagoDNA, pengembang aplikasi yang belajar mandiri. Banyak orang memakai apa yang ia buat. Tidak ada yang tahu berapa malam ia habiskan dalam sunyi. Buku ini adalah salah satu caranya berbicara.

Top comments (0)